Sahabat di Balik Kacamata Dunia Lain
Table of Contents
Kutukan Mata Ketiga dan Sunyi yang Menyesakkan
Persahabatan bukan sekadar kata yang ditulis di atas selembar kertas tanpa arti, melainkan sebuah ikatan suci yang tak ternilai oleh materi. Ikatan persahabatan tidak akan pudar kecuali semesta yang memisahkan jiwa dan raga kita.
Aku adalah Mantili, seorang anak yang lahir dari keluarga sederhana, jauh dari gemerlap dunia. Aku dilahirkan pada tahun sembilan puluhan, masa yang barangkali banyak orang mengenangnya sebagai periode penuh tantangan, di mana kemakmuran masih menjadi impian bagi banyak keluarga yang hidup dalam kesusahan.
Sejak kelahiranku, kehidupan terasa begitu berat. Aku menyadari bahwa aku memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh anak-anak lain. Di saat anak-anak seusiaku menikmati masa kecil mereka dengan bermain riang bersama teman-teman, aku harus menjalani masa kecil yang jauh berbeda. Aku tidak bisa bermain bebas atau menjalin banyak persahabatan.
Hal itu terjadi karena aku memiliki kemampuan yang berbeda: melihat makhluk yang tidak kasat mata—yang kini sering disebut indigo. Kehidupanku pun menjadi medan pertempuran tersendiri yang melelahkan. Banyak anak yang ketakutan saat mendekatiku, bahkan jika ada yang berniat berteman, orang tua mereka melarang keras karena khawatir aku membawa pengaruh buruk akibat kebiasaanku yang kerap berbicara sendiri atau tertawa tanpa alasan jelas. Begitulah pandangan dingin mereka terhadapku—seorang anak dengan sifat dan kemampuan yang dianggap aneh.
Sebagian besar waktuku dihabiskan dalam kesendirian. Aktivitas sehari-hariku lebih sering ditemani oleh benda mati atau sesekali berinteraksi dengan entitas asing yang mengintai dari sudut-sudut gelap. Rasa kesepian yang pekat kerap menghimpit dada, terutama saat melihat teman-temanku bebas berlarian ke mana pun mereka suka. Ada masa terkelam dalam hidupku ketika aku merasa benar-benar hancur dan berpikir untuk mengakhiri semuanya agar terbebas dari beban yang kutanggung sendiri.
Namun, perlahan perasaan itu memudar. Aku mulai menemukan kenyamanan dalam kesunyian, menyadari bahwa aku memiliki kebebasan mutlak tanpa ada yang mengatur atau memaksakan kehendak.
Dukungan tanpa henti dari kedua orang tuaku membuatku bangkit. Mereka mengingatkan bahwa keluargaku mewarisi keahlian istimewa dari generasi ke generasi—sebuah pengetahuan spiritual untuk membantu mengobati sesama. Perlahan, aku belajar ikhlas, menjadikan kemampuan ini sebagai ladang ibadah untuk menolong orang yang kesurupan atau diganggu makhluk halus.
Kengerian di Perairan Kepulauan Seribu
Setiap hari, ayahku menuntunku terbiasa menggunakan kemampuan ini untuk menyembuhkan. Setiap libur sekolah, aku selalu diajak mendampingi proses penyembuhan atau bersareat, menghadapi berbagai kasus mulai dari santet, pelet, hingga kesurupan.
Pengalaman paling mencekam terjadi pada tahun 2008. Ayahku mengajakku ke Kepulauan Seribu untuk membantu seorang ibu yang telah diganggu makhluk halus selama lima hari berturut-turut hingga mengamuk dan menghancurkan rumahnya sendiri.
Perjalanan itu mengharuskan kami menyeberangi lautan gelap menggunakan perahu kecil. Semakin mendekati pulau tujuan, suasana berubah drastis menjadi sangat mencekam. Warga sekitar memperbincangkan bahwa desa itu angker dan kerap memakan korban yang hilang entah ke mana.
Di tengah gulita perairan, sekujur tubuhku mendadak diterpa hawa dingin yang luar biasa berat—tanda kehadiran entitas tingkat tinggi. Tiba-tiba, suara nyaring dan melengking memecah keheningan malam, memanggil namaku dari arah yang tidak pasti: "Heeeeeiiii... Mantiliiiii!"
Ayah dan pengemudi perahu menoleh dengan tegang, sementara Ayah hanya tersenyum tenang menenangkanku, "Mereka hanya ingin kenalan saja."
Namun, ketegangan belum usai. Bisikan lirih terdengar menyayat hati, suara anak perempuan memohon, "Tolong..." Seketika, perahu kami berhenti mendadak, tertahan oleh sesuatu yang mencengkeram dari dalam air. Pengemudi perahu panik luar biasa karena kapalnya tidak mau bergerak.
Saat kami memeriksa bagian bawah perahu, kengerian yang sesungguhnya terungkap. Sesosok mayat bayi perempuan yang telah membusuk terapung di air dengan kondisi mengenaskan; sebagian tubuhnya hancur, jari tangan dan kakinya hilang karena terkoyak arus atau dimakan ikan. Hatiku bergemuruh hebat, diliputi rasa pilu dan teror yang menusuk tulang.
Arwah di Antara Kematian dan Nama yang Diberikan
Setelah melaporkan penemuan mengerikan itu kepada aparat setempat, kerumunan warga mulai berdatangan. Di tengah hiruk-pikuk itu, mataku menangkap sesosok anak perempuan ganjil yang tidak memedulikan jasad bayi tersebut, melainkan menatapku sambil melambaikan tangan dan tersenyum. Dalam sekejap, anak itu lenyap tanpa jejak. Aku tahu pasti, ia bukan manusia.
Kami melanjutkan perjalanan berjalan kaki sejauh lima kilometer menuju rumah pasien. Di tengah perjalanan yang melelahkan di hutan pulau yang sunyi, keajaiban kecil datang ketika kelapa dan pisang jatuh dari pohon, cukup untuk mengganjal perut kami yang kering. Namun, saat aku hendak membuang kulitnya, anak perempuan misterius dari dermaga itu kembali muncul di hadapanku.
"Haaahh! Hei! Kamu kan yang tadi di dermaga? Kamu siapa?" seruku terkejut.
Anak itu tersenyum lirih, "Maaf kalau aku lancang mengikuti kalian."
Ketika Ayah mendekat, anak itu berkata dengan jujur, "Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena kalian sudah membantu menemukan jasadku tadi."
Spontan aku berteriak ketus, "Jadi kamu SETAN? Ihh! Bener kan kalau kamu itu setan yang tadi aku lihat!"
Ayah menenangkanku dengan lembut, "Ssstt... Jangan bicara begitu, Mantili. Dia bukan setan, melainkan arwah yang belum tenang."
Anak malang itu menceritakan kisah hidupnya yang tragis; ia dibuang oleh orang tuanya saat lahir karena terlahir dengan kekurangan dan hasil dari kehamilan di luar negosiasi moral. Ia terjebak di pulau itu, dikelilingi makhluk jahat yang hendak menjadikannya budak pesugihan. Melihat ketulusan kami, ia memohon perlindungan.
Mendengar kisahnya yang pilu, Ayah dengan penuh kasih sayang memberinya sebuah identitas: Yanti. Yanti menangis terharu dan berseru gembira ketika Ayah membolehkannya ikut bersama kami agar tidak lagi menjadi korban di pulau angker tersebut.
Aku yang masih ketus sempat menolak mentah-mentah, menganggap Yanti hanya akan menjadi beban dan sumber pusing, namun Ayah menengahi agar kami segera melanjutkan perjalanan menyembuhkan pasien.
Amukan Siluman Buaya di Tanah Pesisir
Sesampainya di rumah pasien, suasana sangat kacau. Seorang ibu mengamuk sejadi-jadinya dengan suara melengking mengerikan yang bukan suara manusia. Keluarga korban histeris; mereka telah berobat ke berbagai dukun, tabib, hingga menjual sebidang sawah demi biaya pengobatan yang mahal namun berujung nihil.
Dengan ketenangan luar biasa, Ayah melangkah maju dan menotok tangan ibu tersebut. Seketika, ibu itu jatuh pingsan dan sadar kembali dalam keadaan tenang.
Namun, kengerian mencapai puncaknya ketika entitas yang bersemayam di tubuh ibu itu memanifestasikan diri—sesosok siluman buaya gaib yang murka karena diusir. Suaranya menggelegar penuh ancaman, menunjuk Ayah dengan amarah membara, "Berani-beraninya kau mengusikku dan membuat keributan di tempatku! Aku akan terus melukai dia!"
Ayah berdiri tegak tanpa gentar sedikit pun, membalas dengan suara tegas penuh wibawa, "Apa hakmu berada di sana? Kau yang mengganggu manusia, jadi aku wajib mengeluarkanmu! Aku tidak takut padamu, aku punya Tuhan!"
Siluman buaya itu tertawa mengejek, mengancam akan membunuh Ayah dan keluarganya. Tanpa panik, Ayah mengangkat telapak tangan dan jari-jarinya ke udara. Seketika, gelombang energi panas yang teramat sangat menyiksa menghantam sang siluman. Makhluk itu menjerit histeris dalam kesakitan yang luar biasa, memohon agar Ayah menghentikannya.
Diiringi lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan Ayah, siluman buaya itu akhirnya takluk, hancur, dan dibuang ke dasar neraka untuk selamanya. Suasana kembali aman, meninggalkan kelegaan mendalam bagi keluarga korban.
Lautan Malam, Teror Kecoa, dan Ikatan yang Tak Terpisahkan
Malam harinya, kami dijamu dengan makanan berlimpah sebelum menginap karena tidak ada kapal yang beroperasi pada malam hari. Di tengah jamuan, Yanti terus saja menjailiku, memancing amarahku karena bersikap bagai kucing dan anjing.
Aku memilih keluar untuk menenangkan diri, duduk di balai bambu yang menghadap langsung ke laut gelap gulita. Yanti menyusulku, merajuk manja ingin berteman dan bermain bersama. Karena kesal, aku membentaknya keras, "Hehh… setan! Aku bilang jangan ganggu aku! Aku ingin sendiri, aku tidak membutuhkan teman!" Yanti pergi dengan wajah sedih.
Namun, karma instan langsung menghantamku. Saat berjalan menyusuri pasir pantai yang sepi, bulu kudukku mendadak merinding hebat. Ribuan kecoa tiba-tiba merayap naik dan mengerubungi kakiku—ketakutan terbesar dalam hidupku. Panik yang luar biasa melumpuhkan sendi-sendiku, membuatku lemas tak berdaya hingga nyaris pingsan. Aku berteriak histeris memanggil namanya, "Yanti! Tolong aku, jangan pura-pura tidak melihat! Aku lemas, tolong aku!"
Yanti yang awalnya berdiri jauh dengan nada meledek berkata, "Katanya kamu tidak membutuhkan teman!"
Melihat kondisiku yang sudah di ambang pingsan karena teror phobia itu, aku memohon sambil menangis, "Yanti! Cepat bantu jauhi hewan ini! Aku takut! Aku mohon... Aku janji akan berteman denganmu. Tolonglah aku!"
Dengan senyum puas, Yanti maju dan menyingkirkan ribuan serangga mengerikan itu dariku. Sambil menghela napas lega, aku mengomel kesal, "Huuuuhhhh… selamat! Lama banget sih kamu baru bantuin aku!"
Yanti terkekeh menggoda, "Yee... bukannya terima kasih, malah marah-marah. Makanya jangan sombong, jadi orang itu butuh teman untuk saling membantu!"
Aku terdiam, lalu bergumam mengalah, "Aku sudah bilang makasih! Puas kamu?"
Sejak malam itu, segalanya berubah. Persahabatan kami terjalin erat melintasi batas dunia nyata dan gaib. Kubawa Yanti pulang dan mengenalkannya pada ibuku yang menyambut dengan kehangatan kasih. Yanti belajar banyak tentang nilai kehidupan, agama, dan kesopanan dariku dan keluarganya. Persahabatan unik ini terus bertahan hingga kami dewasa, sebuah ikatan suci yang tak lekang oleh waktu dan maut.
Posting Komentar