Monumen Lubang Tahunan

Monumen Lubang Tahunan


Dari awal yang sibuk mencari dukungan, jabatan, hingga dipercaya menjadi orang yang amanah untuk mempromosikan dirinya. Katanya akan membantu rakyat kecil, memenuhi janji yang bermula dari pembangunan rumah tidak layak huni, jalan berlubang, bahkan mengubah perekonomian orang susah.

Bagaimana kabarnya sekarang?

"Bapak Pejabat, Ibu Anggaran... Apa kalian masih pada ingat janjinya?"

Katanya mau menormalisasi keadaan, membantu ekonomi rakyat kecil, membangun rumah warga yang tidak mampu, serta mendengarkan setiap keluh kesah rakyat. Kok sampai sekarang belum ada juga ya? Wkwkwkwkwk!

Lagi pada lupa, ya? Karena uang anggarannya terlalu kebanyakan, atau bingung uangnya mau dibelikan apa lagi biar enggak ketahuan rakyat?

Kerjanya sok sibuk, padahal hanya sibuk sendiri di ruangan ber-AC sambil ucang-ucang kaki. "Bapak Pejabat... turun dong, jangan ngopi mulu! Ingat gak sama janji ini?"

"Saya berjanji jika saya terpilih menjadi pejabat, saya akan membantu perekonomian masyarakat kecil, membantu menyekolahkan anak sampai kuliah, memperbaiki jalan-jalan rusak, dan memajukan usaha-usaha kecil rakyat."

Ini hanya sebuah kata-kata saja, atau sekadar obrolan untuk memberi harapan palsu, Pak?

Realita di Balik Meja Mewah

Hidup mereka seolah tak pernah melihat kondisi nyata di lapangan. Datang telat, kerja hanya sebentar di tempat yang nyaman, bersih, dan ber-AC. Hasil pekerjaannya? Hancur. Semua proyek di-acc tanpa tahu persis apa wujud proyeknya.

Gaji gampang naik, anggaran jor-joran, tapi amnesia total sama janji ke rakyat.

Jalanan berlubang dibiarkan sampai banyak orang berjatuhan, bahkan membuat warga akrab dengan "ciuman aspal" setiap kali lewat. Aduan yang datang hanya dianggap sebagai angin lalu.

Apakah Bapak Pejabat dan Ibu Anggaran benar-benar tidak tahu soal jalan rusak yang sudah terkenal lokasinya? Atau jangan-jangan sengaja pura-pura tutup mata karena sayang mengeluarkan anggaran untuk perbaikan?

Sampai-sampai, karena sudah terlalu banyak korban akibat lubang jalan, masyarakat sekitar berinisiatif membuat plang besar bertuliskan:

"MONUMEN PROYEK TAHUNAN"

Plang raksasa itu dipampang tepat di tengah jalan rusak, hingga akhirnya mengundang para reporter untuk meliput. Berita naik, laporan membludak, dan ajaibnya... keesokan harinya jalan langsung diperbaiki.

Memang harus selalu diviralkan dulu ya, Pak, kalau ada masalah rakyat kecil? Terus, sebenarnya apa fungsi bapak di kursi itu?

Negara "Orang Dalam" dan Proyek Topeng

Negara kita memang unik. Orang susah harus punya "orang dalam" kalau mau urusannya beres. Kalau tidak, siap-siap saja gigit jari saat ingin mengadu atau menyelesaikan masalah.

Beda cerita dengan anak-anak atau saudara para pejabat. Jika rakyat biasa harus menunggu berbulan-bulan hanya untuk mengurus KTP—bahkan harus antre sejak subuh dengan penuh peluh—anak pejabat tinggal angkat telepon, dan dalam tiga menit semuanya beres tanpa antre dan tanpa memohon.

Luar biasa memang. Negara yang katanya ingin memanusiakan rakyat kecil, justru sering kali membuat rakyat kecil semakin terpinggirkan.

Rakyat sabar menunggu janji-janji manis para pejabat, sementara para pejabatnya justru duluan mengamankan hasil. Korupsi dirancang seteliti dan serapi mungkin, tanpa peduli pada harapan yang pernah mereka tabur. Yang penting hak rakyat berhasil dikeruk.

Jalan diperbaiki hanya demi pencitraan. Jalan disiksa agar terlihat rapi secara instan. Padahal, anggaran Rp450 juta digelontorkan, tapi hanya dalam 45 hari jalanan sudah hancur kembali.

Bukan memperbaiki agar awet, tapi memperbaiki dengan sistem kilat. Orang-orang berdasi hanya pintar berpidato dan gunting pita, padahal mereka sedang menjalankan proyek topeng bertajuk "Cagar Budaya Lubang Nasional"—yang dilindungi undang-undang meski rusak lagi setiap tahunnya.

Setiap tahun anggaran baru cair, gunting pita peresmian diulang kembali, sementara uang rakyat lenyap ditelan keserakahan para pejabat yang tak pernah kenyang.
Aku Menyesal Terlambat, Ayah & Ibu Pergi Saat Aku Masih Sibuk dengan Dunia

Aku Menyesal Terlambat, Ayah & Ibu Pergi Saat Aku Masih Sibuk dengan Dunia

Aku Tidak Pernah Siap Kehilangan… Tapi Kehilangan Datang Juga

Panjang sekali.
Cukup untuk memperbaiki semuanya.
Cukup untuk membahagiakan Ayah dan Ibu.
Cukup untuk menjadi anak yang mereka banggakan.
Dulu aku pikir… waktu itu panjang.
Tapi aku salah.
Waktu tidak pernah panjang.
Ia hanya terlihat panjang… sampai semuanya diambil begitu saja.
“Ayah sudah tidak ada…”
Kalimat itu seperti menghantam dadaku tanpa ampun.
Aku masih ingat jelas detik itu.
Dunia tidak berhenti.
Langit tidak runtuh.
Orang-orang tetap berbicara seperti biasa.
Hanya aku… yang rasanya ikut mati sebagian.

16 Tahun Berlalu… Tapi Aku Tidak Pernah Sembuh

Sudah lebih dari enam belas tahun Ayah pergi.
Enam belas tahun.
Seharusnya cukup untuk membuatku kuat.
Tapi kenyataannya… aku tidak pernah benar-benar sembuh.
Aku hanya belajar menyembunyikan luka.
Malam-malam tertentu, saat semua orang tertidur, aku masih berbicara sendiri.
“Ayah… aku capek…”
Suaraku lirih.
Kalimat yang dulu ingin sekali aku ucapkan saat pulang ke rumah…
saat aku lelah… saat aku butuh dipeluk…
Tapi sekarang… tidak ada lagi tempat untuk pulang seperti dulu.

Lalu Ibu Pergi… dan Aku Benar-Benar Hancur

Aku pikir kehilangan Ayah adalah rasa paling sakit yang pernah ada.
Ternyata aku salah lagi.
Dua tahun lalu… Ibu menyusul.
Dan saat itu… aku tidak lagi kuat berpura-pura.
“Tuhan… jangan…”
Aku masih ingat bagaimana aku memohon.
“Jangan ambil Ibu juga… aku masih butuh…”
Tapi doa itu tidak menghentikan apa pun.
Aku berdiri di samping tubuh Ibu yang terbaring tenang…
dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…
aku benar-benar merasa sendirian.

Penyesalan Itu Datang… Saat Tidak Ada yang Bisa Diperbaiki

Yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan.
Tapi… penyesalan.
Penyesalan yang datang terlambat.
“Aku belum sempat membahagiakan mereka…”
Kalimat itu seperti menghantamku setiap hari.
Aku mulai mengingat semuanya.
Hal-hal kecil yang dulu aku anggap biasa:
Saat Ayah berbicara, tapi aku tidak benar-benar mendengarkan
Saat Ibu memanggil, tapi aku menjawab dengan nada kesal
Saat aku lebih sibuk dengan dunia sendiri… dibanding duduk bersama mereka“Kenapa aku seperti itu…?”
Aku bertanya pada diriku sendiri.
Tapi tidak ada jawaban yang bisa mengubah masa lalu.

Aku Berpura-Pura Kuat… Tapi Sebenarnya Hancur

Di depan orang lain, aku terlihat baik-baik saja.
Aku tertawa.
Aku bekerja.
Aku menjalani hidup seperti tidak terjadi apa-apa.
Tapi saat sendiri…
Aku runtuh.
“Aku sebenarnya tidak kuat…” bisikku.
Aku duduk di lantai, memeluk lutut, mencoba menahan sesuatu yang terus ingin keluar.
“Kalau Ayah dan Ibu lihat aku sekarang… mereka bangga tidak ya…?”
Pertanyaan itu menghantui.
Dan aku… terlalu takut untuk menjawabnya.

Ada Banyak Kata yang Tidak Pernah Sempat Terucap

Ini yang paling menyiksa.
Hal-hal yang tidak pernah sempat aku katakan.
“Ayah… maaf aku sering membantah…”
“Ibu… maaf aku belum jadi anak yang baik…”
Aku menutup wajahku.
“Aku kangen… aku kangen banget…”
Suaraku pecah.
Tapi semua itu… sekarang tidak sampai ke mana-mana.
Hanya berputar… di dalam dadaku sendiri.

Aku Pernah Marah pada Tuhan… dan Itu Menyakitkan

Ada masa di mana aku marah.
Sangat marah.
“Tuhan… kenapa Kau ambil mereka sebelum aku siap?!”
Aku berteriak dalam diam.
“Kenapa Kau tidak beri aku waktu sedikit lagi?!”
Air mataku tidak berhenti.
“Kenapa harus mereka…?”
Aku bahkan pernah berpikir…
“Kenapa bukan aku saja…?”
Dan setelah semua itu… yang tersisa hanya rasa bersalah.
Karena aku tahu… aku sedang mempertanyakan sesuatu yang tidak bisa aku pahami.

Ikhlas Itu Tidak Pernah Benar-Benar Terjadi Seketika

Orang-orang berkata: “Ikhlaskan.”
Seolah itu mudah.
Penuh jatuh.
Penuh tangis.
Penuh pertanyaan yang tidak pernah terjawab.
Seolah hati ini bisa langsung menerima.
Padahal kenyataannya…
Ikhlas adalah proses yang panjang.
Aku tidak pernah benar-benar selesai dengan rasa kehilangan ini.
Aku hanya… belajar hidup dengannya.

Sekarang, Aku Merindukan Mereka dengan Cara yang Berbeda

Dulu aku menangis keras.
Sekarang… aku menangis diam-diam.
Dulu aku berteriak.
Sekarang… aku berdoa.
“Ya Allah…”
“Tolong jaga Ayahku…”
“Tolong jaga Ibuku…”
“Maafkan aku… yang belum sempat membuat mereka bahagia…”
Air mata jatuh lagi.
Tapi kali ini… ada sesuatu yang berbeda.
Ada keikhlasan… meski kecil.

Aku Belum Selesai Menjadi Anak Mereka

Aku berdiri di depan cermin.
Menatap diriku sendiri.
“Aku belum jadi anak yang mereka harapkan…”
Aku menarik napas dalam.
“Tapi aku belum selesai…”
Aku masih hidup.
Masih diberi waktu.
Masih diberi kesempatan.
Dan aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi.
Untuk Ayah.
Untuk Ibu.
Untuk cinta yang mereka tinggalkan.

Rindu Ini Akan Aku Bawa Sampai Mati

Kehilangan ini tidak akan pernah hilang.
Rindu ini tidak akan pernah selesai.
Dan mungkin… memang tidak seharusnya selesai.
“Ayah…”
“Ibu…”
“Aku masih di sini…”
“Masih berusaha…”
“Masih belajar…”
“Dan masih merindukan kalian… setiap hari…”
Sampai suatu hari nanti…
Saat aku dipertemukan kembali dengan kalian…
Aku ingin berkata, dengan air mata dan senyum:
“Aku tidak sempurna… tapi aku tidak berhenti mencoba.”
Tumbal Karung Terakhir

Tumbal Karung Terakhir

Wangi Kemenyan di Tengah Pasar

Pasar Tradisional Senen Lama tidak pernah benar-benar tidur. Di antara hiruk-pikuk pedagang dan bau amis ikan, ruko beras milik Pak Slamet dulunya adalah titik paling hidup. Selama sepuluh tahun, tokonya tidak pernah sepi. Karung-karung beras berton-ton datang dan pergi, menyisakan derit timbangan yang berirama konstan dengan suara uang logam yang bergemerincing masuk ke laci kasir.

Namun, roda nasib berputar ke jurang yang kelam. Memasuki bulan kesepuluh, ruko Pak Slamet mendadak mati. Bukan sekadar sepi, melainkan mati suri yang tidak wajar.

Tidak ada satu pun pembeli yang melangkahkan kaki ke dalam. Yang membuat bulu kuduk Pak Slamet meremang, para pelanggan setianya yang biasa menyapa setiap pagi kini berjalan cepat sambil menunduk. Mereka bahkan enggan melirik ke arah rukonya, seolah ada dinding tak kasat mata berbau bangkai yang membuat siapa pun ingin segera menjauh.

Awalnya ia mengira ini siklus tanggal tua. Tapi ketika ia keluar dan melihat pasar justru sedang berdesakan penuh pembeli, darahnya mendadak dingin. Para pelanggannya berkerumun padat, mengular panjang di depan sebuah ruko beras baru yang buka persis tiga petak di sebelah tokonya.

Pesaing Misterius dan Daging Busuk

Dua bulan berlalu dalam kesunyian yang mencekam. Ruko Pak Slamet kini lebih mirip kuburan tua. Di siang bolong yang terik, udara di dalam tokonya terasa pengap, dingin, dan berbau anyir yang aneh—mirip bau darah segar yang dibiarkan mengering di bawah terik matahari.

Suatu hari, rasa penasaran yang bercampur frustrasi mendorong Pak Slamet mendekati ruko pesaingnya itu. Ia mengintip dari kejauhan. Pemilik ruko baru itu tidak terlihat batang hidungnya, hanya ada seorang penjaga toko berwajah pucat pasi dengan mata melotot tajam tanpa pernah berkedip.

Yang membuat perut Pak Slamet mual, saat ia mendekati saluran air di belakang ruko tersebut, ia melihat lalat hijau mengerumuni tumpukan karung. Dari celah karung itu, menetes cairan kental berwarna merah kehitaman, mengeluarkan bau busuk yang menusuk ulu hati. Bukan bau beras... melainkan bau daging yang mulai membusuk.

Pak Slamet lari terbirit-birit kembali ke rukonya dengan kaki gemetar. Utang menumpuk, biaya sekolah anak mendesak, dan ancaman kebangkrutan menghimpit kewarasannya. Di titik terendah itulah, akal sehatnya putus.

Perjanjian di Malam Jumat Kliwon

Malam itu, ditemani gulita yang pekat, Pak Slamet nekat mendatangi sebuah gubuk reot di ujung makam cina keramat. Di sana ia menemui seorang dukun tua bermata putih legam yang menyeringai lebar menyambut kedatangannya.

"Kau ingin tokomu kembali laris dan harta berlimpah?" desis sang dukun dengan suara serak seperti gesekan ampelas. 

"Syaratnya mutlak. Setiap malam Jumat Kliwon, letakkan sesajen lengkap dengan darah segar di atas karung beras terbesar di gudangmu. Jangan pernah berani melupakannya, atau nyawamu taruhannya."

Tanpa pikir panjang demi uang, Pak Slamet mengangguk cepat.

Tepat malam Jumat Kliwon berikutnya, ia menyiapkan sajian kembang kantil, dupa yang mengepulkan asap pekat berasap biru, dan mangkuk berisi darah ayam di atas tumpukan karung beras paling besar di sudut gudang belakang.

Keajaiban yang mengerikan terjadi keesokan paginya.

Baru saja ia membuka setengah pintu rolling door, jeritan histeris dari luar langsung memecah pagi. Puluhan orang berdesakan saling injak, merangsek masuk ke dalam rukonya dengan mata liar dan mulut berbusa.

"Pak! Berasnya! Cepat ambilkan seratus kilo! Saya mau semuanya!" teriak mereka berebut layaknya orang kesurupan.

Pak Slamet melayani mereka dengan tangan gemetar. Uang jutaan rupiah mengalir deras memenuhi laci. Namun, ada yang salah dengan para pembeli itu. Kulit mereka pucat pasi, mata mereka cekung, dan setiap kali mereka berbicara, tercium bau tanah kuburan dari mulut mereka. Pak Slamet menutup mata rapat-rapat, mengabaikan rasa ngerinya demi gepokan uang di tangan.

Malam harinya, saat ia hendak mengambil karung di gudang, ia terperanjat hebat. Gudang yang tadi sore kosong kini penuh sesak oleh tumpukan karung beras yang menggunung hingga menyentuh langit-langit.

Ia mendekati salah satu karung, merobeknya sedikit, lalu mencicipi butirannya.
Kreeek... kreeek...
Butiran beras itu berdarah saat dikunyah. Rasanya amis, dingin, dan berbau busuk. Namun, ketamakan telah membutakan matanya. Ia tertawa lebar, merasa akan menjadi orang terkaya di kota itu.

Lalai Berbuah Petaka

Memasuki bulan keempat, kesombongan meracuni pikiran Pak Slamet. Ia merasa bisnisnya sudah kuat dan tidak lagi membutuhkan "upeti" mingguan. Ketika malam Jumat Kliwon tiba, ia malas menyiapkan sesajen. Ia memilih tidur pulas di kamar lantai atas sambil memeluk koper berisi uang hasil penjualan.

Pagi menjelang. Dengan senyum lebar, ia membuka rolling door rukonya, bersiap menyambut antrean pembeli.

Namun, tidak ada siapa pun di luar. Sepi. Hanya angin malam yang berbisik membawa bau busuk yang teramat sangat.

Tiba-tiba, seorang pelanggan wanita berjalan mendekat dengan langkah menyeret. Wajahnya biru lebam, matanya melotot menatap tajam ke arah Pak Slamet. Wanita itu melemparkan sebuah karung beras ke lantai kasir.

"Pak... beras apa ini...?" suara wanita itu terdengar parau, bergetar keluar dari tenggorokan yang seolah kering kerontang. "Anak saya muntah darah setelah makan nasi ini... di dalam karungnya penuh dengan belatung dan... dan potongan kuku manusia!"

Pak Slamet menjerit histeris. Ia melihat isi karung yang dilempar itu bergerak-gerak hidup, dipenuhi ribuan belatung putih yang menggeliat di atas tumpukan beras berlumur darah hitam.

Belum sempat ia bernapas, lampu di dalam ruko mendadak padam total. Suasana berubah menjadi gelap gulita, sedingin es.

Bab 5: Tagihan Sang Penguasa Malam
"Aku kerja keras mati-matian menarik pembeli untukmu... tapi kenapa aku tidak kau beri makan malam ini?"

Sebuah bisikan dingin yang berbisik tepat di lubang telinga belakang membuat sekujur darah Pak Slamet membeku seketika. Suara itu begitu dekat, bernapas tepat di tengkuknya yang basah oleh keringat dingin.

Pak Slamet tidak berani menoleh. Kakinya terpaku di lantai semen yang mendadak berubah menjadi lumpur hisap yang berdarah.

"Hihihihi... hihihihi..."

Sosok tinggi besar dengan rambut panjang menjuntai hingga menyentuh lantai melayang turun dari loteng gudang. Wajahnya hancur sebelah, memperlihatkan tulang tengkorak yang terkoyak dengan mata bernyala merah darah di dalam kegelapan. Itulah entitas mengerikan yang selama ini memberinya kekayaan.

"Kamu pikir perjanjian kita bisa diputus begitu saja, Pak Slamet...?" cicit suara itu merayap meremukkan saraf. "Kau ingkar janji. Maka sekarang, bayar utangmu dengan nyawamu!"

Pak Slamet merangkak histeris, menembus kegelapan menuju brankas besi di sudut kamar untuk mengambil seluruh uangnya sebagai penebusan. Tangannya yang gemetar hebat mengetik angka sandi sambil menangis meraung-raung.

Begitu pintu brankas terbuka lebar dengan bunyi derit logam yang memekakkan telinga, ia merogoh ke dalam dengan penuh harapan.

Namun, tidak ada selembar pun uang di sana. Yang ia genggam hanyalah segenggam tanah kuburan yang basah, dipenuhi belatung menggeliat dan potongan kuku manusia yang membusuk.

"Hihihihi... harta sesungguhnya milikmu ada di sini, di dalam pelukanku..."

Sembari jeritan terakhirnya menggema memecah malam, ruangan itu mendadak gelap total. Keesokan harinya, ruko beras itu ditemukan terkunci rapat dari dalam. Ketika warga memaksa mendobrak pintunya, Pak Slamet ditemukan terbujur kaku di atas lantai gudang—dengan tubuh kurus kering tak berdarah, dan mulutnya dipenuhi oleh butiran beras berlumur tanah kuburan.
Misteri Curug Gadung

Misteri Curug Gadung


Jauh di dalam lebatnya hutan desa, tersembunyi sebuah air terjun yang awalnya tak tersentuh siapa pun. Ciri khasnya unik: kabut tipis selalu menyelimuti aliran airnya, tak pernah hilang meski musim kemarau panjang melanda. Dahulu, tempat ini hanya dikenal segelintir orang berkat keindahan dan kesejukannya yang masih sangat asri.

Namun, seiring berjalannya waktu, kerahasiaan itu mulai pudar. Curug Leweung mendadak viral dan menjelma menjadi tempat nongkrong terfavorit bagi anak-anak muda dari berbagai kalangan. Setiap hari, tawa dan keceriaan selalu memecah kesunyian hutan.

Di tengah ramainya pengunjung yang asyik mandi dan bersantai, suasana mendadak berubah mencekam. Tanpa diduga, seorang kakek tua ringkih muncul dari balik rimbunnya pepohonan.

Tanpa aba-aba, kakek itu membabi buta mengusir siapa saja yang sedang berenang maupun duduk-duduk di sekitar air terjun. Kehadirannya yang tiba-tiba sontak membuat para pengunjung terkejut sekaligus ketakutan.

Dengan menggenggam sebatang kayu di tangannya, sang kakek berteriak murka, menyuruh semua orang meninggalkan tempat itu. Merasa terganggu dan menganggap si kakek membuat keributan, beberapa pengunjung yang geram malah balik mengusirnya dengan kasar.

Kakek itu sempat melawan dan mempertahankan niatnya, namun tubuhnya yang sudah renta jelas tidak kuasa menandingi dorongan para pemuda yang emosi.

Hingga akhirnya, di tengah napasnya yang memburu, kakek itu melontarkan sebuah peringatan penuh keputusasaan:

"Cepat pulang...! Jangan mandi lagi di curug ini...! Ayo pulang... kasihan keluargamu... jika nanti kalian jadi korban..." teriak kakek itu sambil merintih pilu.

Ucapan tersebut langsung meredam suasana. Para pengunjung terpaku, diliputi rasa penasaran bercampur ngeri. Di tengah kebingungan itu, tiga orang gadis muda memutuskan untuk segera beranjak pergi, mempercayai peringatan sang kakek.

"Kek... sudah, ya... jangan menangis lagi. Kami sudah keluar kok dari area curugnya," ujar salah satu dari tiga gadis itu dengan nada menenangkan.

"Ayo, Kek... kami bantu berdiri..." sambung mereka pelan.

Merasa iba melihat kondisi si kakek yang gemetaran hebat, ketiga gadis itu menuntunnya ke warung terdekat. Mereka membelikannya makanan dan minuman agar pria tua itu bisa sedikit tenang.

"Kek, makan dulu, ya... Aku lihat kakek gemetaran banget. Makan dulu, ya, Kek... Biar kami yang suapin," bujuk ketiga gadis itu penuh perhatian.

Setelah dibujuk dengan lembut, sang kakek akhirnya mau menyantap makanan dan meneguk air yang diberikan. Begitu mangkuknya kosong, ia mendekatkan wajahnya, lalu berbisik pelan kepada ketiga gadis tersebut.

Kakek itu mengungkap sebuah rahasia kelam: Curug Leweung bukanlah tempat sembarangan, melainkan tempat yang sangat berbahaya. Alasan mengapa curug itu sempat tersembunyi selama bertahun-tahun adalah karena tempat tersebut sengaja ditutup dan dikunci oleh seorang "orang pintar" sejak tragedi masa lalu.

Namun, kini segel itu seolah terbuka kembali karena memang sudah waktunya air terjun itu meminta tumbal baru.

Ketiga gadis itu awalnya sempat ragu dan bingung mendengar cerita yang terdengar seperti dongeng mistis itu. Namun, cara sang kakek bertutur begitu serius dan meyakinkan, membuat bulu kuduk mereka merinding.

Kakek itu lantas menceritakan asal-usul petaka tersebut. Dahulu kala, ada seorang anak perempuan dari kampung seberang yang datang untuk mandi, lalu mendadak lenyap tanpa jejak. Sang ibu yang panik setengah mati mencarinya ke setiap sudut curug, tetapi putrinya sama sekali tidak ditemukan.

Yang tersisa hanyalah sepasang sandal jepit yang tersangkut di akar pohon gadung raksasa, tepat di bawah terjuran air. Yang lebih mengerikan, di sela-sela akar itu, sehelai rambut panjang tampak melilit erat.

Pencarian melibatkan sang ayah dan warga kampung. Sayangnya, hasilnya tetap nihil. Hingga akhirnya, sang ayah menyuruh istrinya—ibu korban—untuk pulang terlebih dahulu guna mencari bantuan lain.

Namun, betapa terkejutnya warga saat menyadari sang ibu ikut menghilang secara misterius dari area curug. Ketakutan luar biasa langsung melanda warga desa. Kepanikan merenggut keberanian mereka, hingga tak seorang pun berani melanjutkan pencarian demi menyelamatkan kedua orang tersebut.

Sejak tragedi berdarah itu, warga setempat sepakat mengganti nama Curug Leweung menjadi Curug Gadung.

Namun, kejanggalan tidak berhenti di situ. Warga yang tinggal di sekitar curug sering kali dikejutkan oleh suara lirih di malam hari—rintihan suara seorang wanita yang tengah nembang (menyanyikan tembang Sunda) dengan nada pelan namun terdengar begitu nyaring di telinga:

"Gadung... anak Emak... pulanglah..."

Itulah alasan mengapa orang pintar pada masa itu menutup rapat akses ke air terjun tersebut, demi mencegah jatuhnya korban-korban berikutnya.

Namun, sebelum pergi, orang pintar itu sempat berpesan: penutupan itu sifatnya hanya sementara. Sebab, takdir Curug Gadung memang ditakdirkan untuk terus menyimpan bahaya.