Monumen Lubang Tahunan
Drama FiksiDari awal yang sibuk mencari dukungan, jabatan, hingga dipercaya menjadi orang yang amanah untuk mempromosikan dirinya. Katanya akan membantu rakyat kecil, memenuhi janji yang bermula dari pembangunan rumah tidak layak huni, jalan berlubang, bahkan mengubah perekonomian orang susah.
Bagaimana kabarnya sekarang?
"Bapak Pejabat, Ibu Anggaran... Apa kalian masih pada ingat janjinya?"
Katanya mau menormalisasi keadaan, membantu ekonomi rakyat kecil, membangun rumah warga yang tidak mampu, serta mendengarkan setiap keluh kesah rakyat. Kok sampai sekarang belum ada juga ya? Wkwkwkwkwk!
Lagi pada lupa, ya? Karena uang anggarannya terlalu kebanyakan, atau bingung uangnya mau dibelikan apa lagi biar enggak ketahuan rakyat?
Kerjanya sok sibuk, padahal hanya sibuk sendiri di ruangan ber-AC sambil ucang-ucang kaki. "Bapak Pejabat... turun dong, jangan ngopi mulu! Ingat gak sama janji ini?"
"Saya berjanji jika saya terpilih menjadi pejabat, saya akan membantu perekonomian masyarakat kecil, membantu menyekolahkan anak sampai kuliah, memperbaiki jalan-jalan rusak, dan memajukan usaha-usaha kecil rakyat."
Ini hanya sebuah kata-kata saja, atau sekadar obrolan untuk memberi harapan palsu, Pak?
Realita di Balik Meja Mewah
Hidup mereka seolah tak pernah melihat kondisi nyata di lapangan. Datang telat, kerja hanya sebentar di tempat yang nyaman, bersih, dan ber-AC. Hasil pekerjaannya? Hancur. Semua proyek di-acc tanpa tahu persis apa wujud proyeknya.
Gaji gampang naik, anggaran jor-joran, tapi amnesia total sama janji ke rakyat.
Jalanan berlubang dibiarkan sampai banyak orang berjatuhan, bahkan membuat warga akrab dengan "ciuman aspal" setiap kali lewat. Aduan yang datang hanya dianggap sebagai angin lalu.
Apakah Bapak Pejabat dan Ibu Anggaran benar-benar tidak tahu soal jalan rusak yang sudah terkenal lokasinya? Atau jangan-jangan sengaja pura-pura tutup mata karena sayang mengeluarkan anggaran untuk perbaikan?
Sampai-sampai, karena sudah terlalu banyak korban akibat lubang jalan, masyarakat sekitar berinisiatif membuat plang besar bertuliskan:
"MONUMEN PROYEK TAHUNAN"
Plang raksasa itu dipampang tepat di tengah jalan rusak, hingga akhirnya mengundang para reporter untuk meliput. Berita naik, laporan membludak, dan ajaibnya... keesokan harinya jalan langsung diperbaiki.
Memang harus selalu diviralkan dulu ya, Pak, kalau ada masalah rakyat kecil? Terus, sebenarnya apa fungsi bapak di kursi itu?
Negara "Orang Dalam" dan Proyek Topeng
Negara kita memang unik. Orang susah harus punya "orang dalam" kalau mau urusannya beres. Kalau tidak, siap-siap saja gigit jari saat ingin mengadu atau menyelesaikan masalah.
Beda cerita dengan anak-anak atau saudara para pejabat. Jika rakyat biasa harus menunggu berbulan-bulan hanya untuk mengurus KTP—bahkan harus antre sejak subuh dengan penuh peluh—anak pejabat tinggal angkat telepon, dan dalam tiga menit semuanya beres tanpa antre dan tanpa memohon.
Luar biasa memang. Negara yang katanya ingin memanusiakan rakyat kecil, justru sering kali membuat rakyat kecil semakin terpinggirkan.
Rakyat sabar menunggu janji-janji manis para pejabat, sementara para pejabatnya justru duluan mengamankan hasil. Korupsi dirancang seteliti dan serapi mungkin, tanpa peduli pada harapan yang pernah mereka tabur. Yang penting hak rakyat berhasil dikeruk.
Jalan diperbaiki hanya demi pencitraan. Jalan disiksa agar terlihat rapi secara instan. Padahal, anggaran Rp450 juta digelontorkan, tapi hanya dalam 45 hari jalanan sudah hancur kembali.
Bukan memperbaiki agar awet, tapi memperbaiki dengan sistem kilat. Orang-orang berdasi hanya pintar berpidato dan gunting pita, padahal mereka sedang menjalankan proyek topeng bertajuk "Cagar Budaya Lubang Nasional"—yang dilindungi undang-undang meski rusak lagi setiap tahunnya.
Setiap tahun anggaran baru cair, gunting pita peresmian diulang kembali, sementara uang rakyat lenyap ditelan keserakahan para pejabat yang tak pernah kenyang.



